akhwatbambu

3 Februari 2010

Novel “THE KITE RUNNER” Karya Khaled Hosseini

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — condri @ 09:27
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Khaled Hosseini
UNTUKMU, KESERIBU KALINYA:
Mengejar Layang-Layang Penebus Dosa di THE KITE RUNNER

Sinopsis
Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan,
untuk menentukan apa jadinya diriku.
Aku bisa melangkah memasuki gang itu,
membela Hassan dan menerima apa pun yang mungkin menimpaku.
Atau aku bisa melarikan diri.
Akhirnya, aku melarikan diri.

Amir telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya. Saudaranya. Rasa bersalah menghantuinya. Menyingkirkan Hassan dari kehidupannya adalah satu-satunya pilihan yang ada. Namun setelah Hassan pergi, tak ada lagi yang tersisa dari masa kecilnya. Seperti layang-layang putus, sebagian dari dirinya terbang bersama angin. Tetapi, masa lalu yang telah terkubur dalam-dalam pun senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

The Kite Runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain dari Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Tetapi, bahkan kepedihan selalu menyimpan kebahagiaan. Di tengah belantara puing di kota Kabul, akankah Amir menemukannya?

Data Buku
Judul buku : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penyunting : Pangestuningsih
Penerbit : Qanita
Tahun terbit : 2006 (cetakan II, April)
Tebal buku : xiv + 168 halaman; 17,5 cm

Petuah “Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali” rasanya pas diterapkan untuk buku ini, karena penulis baru membacanya sekarang sejak diterbitkan 2 tahun yang lalu… sementara dalam bahasa grup musik Netral, kesan yang penulis rasakan setelah membaca novel ini dapat digambarkan dengan lagu Terbang Tenggelam dan Haru Biru.

The Kite Runner merupakan novel pertama Khaled Hosseini, sekaligus juga novel Afghan pertama yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Dengan latar Afghanistan sebelum diinvasi oleh Rusia pada tahun 1979, hingga berakhirnya kekuasaan rezim Taliban, kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama dengan gaya memoar yang amat kuat dan emosional.

Semua orang memiliki rahasia yang ingin mereka simpan, hanya untuk diri mereka sendiri (Yang Maha Tahu sudah pasti lah mengetahuinya, namanya juga… Yang Maha Tahu). Semua orang juga memiliki dosa yang mereka sadari, dan secara naluriah ingin mereka tebus. Pertanyaannya, apa yang akan Anda (kita) lakukan jika mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus dosa yang tak terlupakan, dan senantiasa menghantui kita seumur hidup?

Sepanjang hidupnya, sang tokoh utama Amir selalu dihantui oleh rasa bersalahnya terhadap apa yang ia perbuat – atau lebih tepatnya, apa yang tidak ia perbuat – kepada teman baiknya, Hassan. Tetap tersiksa oleh perasaan bersalah setelah 15 tahun terpaksa meninggalkan Afghanistan dan mengungsi ke Amerika Serikat, tersiksa oleh perasaan bersalah, akhirnya Amir kembali ke tempat ia dilahirkan dan tumbuh besar bersama Hassan… dengan harapan bisa menebus perasaan bersalahnya tersebut, sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri. Ada jalan kembali untuk menuju kebaikan.

Tidak seperti novel yang satu itu, karakter Amir bukan jagoan suci. Ia memiliki sisi-sisi gelap, namun manusiawi dalam sebuah perjalanan abadi menuju kedewasaan. Kejujuran dan pergolakan batin ini membuat Amir lebih bisa kita identifikasi secara nyata, tanpa simpati berlebihan ataupun kebencian berkepanjangan. Apa adanya.

Di sisi lain, karakter Hassan yang ‘lurus’ memberikan ketidaknyamanan tersendiri bagi kita yang ‘apa adanya’ ini. Namun alih-alih menjadi klise, apalagi menjadi rebutan setiap tokoh wanita yang ada di novel ini, naifnya kemurnian ini dihempaskan oleh sang pengarang dengan perubahan politik dan benturan budaya yang terjadi. Salut kepada Hosseini yang mampu dengan natural menyuguhkan elemen-elemen sejarah, drama kemanusiaan, kehormatan, penebusan dosa, dan pencarian martabat dalam sebuah panggung sosial politik yang terus berubah cepat.

Novel yang sangat emosional ini diceritakan dengan kalimat-kalimat yang kuat. Setiap karakter memiliki perannya masing-masing, sementara tema-tema universal dalam kehidupan seperti cinta, kehormatan, pengkhianatan, ketakutan, pengabdian, dan penebusan dosa dituturkan apa adanya, dan berhasil menghindari jebakan-jebakan untuk menjadi basi, klise, cengeng, dan pasaran. Jangan lewatkan pula berbagai peristiwa tak terduga yang akan membuat kita penasaran hingga akhir cerita.

Tak hanya menghibur, novel ini juga memberikan pengetahuan bagi pembacanya tentang konflik politik yang terjadi di Afghanistan, terutama mengenai perbedaan kasta antara kaum Sunni dan Syi’ah. Kekejaman kaum Taliban diceritakan dengan brutal, sadis, bengis, dan keji. Betapa sengsaranya rakyat Afghan dan porak porandanya infrastruktur kota-kota di Kabul mengingatkan penulis pada carut marutnya ibu pertiwi yang tak pernah benar-benar merdeka (hanya berganti penjajah dari bangsa asing ke bangsa sendiri). Satu hal yang benar-benar baru bagi penulis adalah potret kehidupan komunitas mayarakat Afghan-Amerika. Para imigran yang memiliki perkampungan tersendiri ini harus memulai hidupnya dari nol dan melupakan status dan kehidupan mewah mereka di negara asalnya agar bisa bertahan hidup.

Rasanya tak berlebihan jika novel ini menjadi buku terlaris sepanjang tahun 2005 versi Publisher’s Weekly dan menduduki tangga atas best-seller selama lebih dari 50 minggu. Tentu saja setelah terlebih dahulu ini diganjar sebagai buku terbaik tahun 2004 versi San Francisco Chronicles.

Salut kepada tim Qanita yang telah membidani edisi terjemahan Bahasa Indonesia ini. Selisih beberapa milimeter antara ukuran sampul dalam dan sampul luar menjadi termaafkan, karena tidak (terlalu) mengganggu saat sang novel diberi sampul plastik.

Seperti buku Madogiwa No Totto - Chan, maha karya Tetsuko Kuroyanagi, novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini memberikan kesan personal bagi saya. Rasanya akan menjadi salah satu dari sedikit novel yang akan saya ingat seumur hidup. Dan mungkin, lagi-lagi seperti Madogiwa No Totto – Chan, bisa jadi akan saya baca lagi, lagi, lagi, dan lagi…

Untukmu, keseribu kalinya…

27 Nopember 2009

takbir keliling

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — condri @ 03:45

Malam ini adalah malam seperti 10 th yang lalu di tanah kelahiranku. Malam ini adalah malam takbir idhul adha. Setiap malam takbiran selalu menggugah rasa haru. Ada rasa syukur membuncah karena masih bisa menikmati malam syahdu ini, namun rasa haru itu muncul karena rindu pada kampung halaman, nuansa takbiran dikampung halaman selalu berbeda dibanding dengan takbiran di tanah orang. Kenangan masa kecil bersama teman-teman ngaji saat TPA dulu selalu membuatku ingin mengulanginya.

Selalu ada malam lomba takbir keliling didesaku. Sudah lama sekali kegiatan rutin ini dilakukan didesaku. Dulu yang menyelenggarakan adalah remaja masjid di seluruh kecamatan didesaku. Entah kini bagaimana pelaksanaanya, yang jelas saat itu aku dan teman-teman TPA begitu antusias ketika ikut serta dalam acara ini. Hmmm…aku kangen membawa obor keliling desaku.

Hari masih belum terlalu sore saat mbahku mampu menyelesaikan pakaian seragam yang akan kami kenakan untuk lomba takbir keliling malam ini. Aku dan teman-temanku rela menunggu disamping mesin jahit mbahku demi mendapatkan seragam itu.  Saat itu, simbhaku menyanggupi untuk membuatkan kami seragam supaya gratis, karena kalau menjahit di orang lain pasti akan mengeluarkan ongkos menjahit. Namun simbah harus berjuang untuk menyelesaikan pakaian seragam kami dalam waktu 3 hari untuk sekitar tujuh orang. Aku sebenarnya kasihan melihatnya, tapi demi melihat tim takbir keliling kami menang, maka mbahku rela mengorbankan waktu dan tenaganya.

Dan kamipun bersorak saat pakaian terakhir yang masih bau oli mesin jahit itu selesai dikerjakan. Baju seragam dengan model gamis kotak-kotak dan sedikit rompi di bagian depan. Kami segera mencobanya dengan sukacita. Malam ini barisan kami pasti akan terlihat kompak dengan seragam ini. Setelah dibagikan semua seragam kami pulang kerumah masing-masing untuk bersiap-siap. Aku segera mandi dan menyiapkan perlengkapan yang lain, permen untuk dijalan, jilbab warna putih dan tak ketinggalan obor yang akan menerangi jalan kami malam ini.

Pukul 19.30 saat kami berkumpul dilapangan masjid kami. Malam takbir keliling kali ini seluruh peserta lomba yang terdiri dari rombongan remaja masjid yang berjumlah minimal 13 orang tiap masjid,kumpul di lapangan mushola kami yang cukup luas. Tiap masjid wajib membawa hiasan kreatifitas, biasanya ada yang membawa helikopter, patung kambing, ketupat, yang semuanya terbuat dari kertas. Ada puluhan masjid di desaku, sehingga malam ini begitu ramai oleh orang-orang yang siap menyemarakkan malam takbir idhul adha dengan kreatifitas hiasan masing-masing. Aku pernah bertanya pada guru ngajiku, kenapa lomba takbir kelilingnya hanya dilakukan saat malam takbir idhul adha? beliau menjawab, jika malam takbir keliling dilakukan saat malam takbir idhul fitri, maka akan repot menyiapkannya. Karena saat malam idhul fitri kebanyakan orang-orang mengurus zakat fitrah.

Aku berbaris paling depan dengan membawa obor, teman-temanku yang lain berbaris dengan teratur. Kali ini perwakilan masjidku membawa ondel-ondel yang di buat oleh kakak laki-lakiku yang pertama dengan dibantu oleh kawan-kawannya. Ondel-ondel itu dibawa oleh 3 orang didalamnya. Lengkap sudah barisan kami malam ini. Jarang orang didesaku yang mampu membuat ondel-ondel. Dan ini kali pertama kami menampilkannya.

Kami mendapat nomor urut dibelakang, tapi itu tak menjadi soal buat kami yang terpenting adalah stamina kami masih cukup kuat untuk berjalan beberapa kilometer kedepan. Kami melangkahkan kaki dengan bertakbir di sepanjang perjlanan kami. Bismillah…semoga takbir kali ini penuh makna ya Alloh..

Allohu akbar 3x laailahaillallohu alllohu akbar Allohuakbar walillahilhamd… terus kami dengungkan kalimat takbir itu dengan semangat dan keteguhan. Jika ada teman kami yang mulai lelah, kami mencoba menyemangatinya. Disepanjang jalan, orang-orang yang melihat tim dari masjid kami bersorak riuh karena melihat ondel-ondel yang tidak pernah mereka temukan didesaku. Mungkin mereka hanya bisa melihat ondel-ondel di televisi yang hanya ada didaerah betawi. Kami bertambah semangat meneriakkan takbir. Hingga garis finihs mulai terlihat. Dan alhamdulillah, akhirnya kami sampai di garis finish. Keringat bercucuran membasahi baju seragam kami, tapi ada rasa lega saat kami duduk berselonjor bersama-sama. Ah, aku yang saat itu masih SD tak terlalu merisaukan kalah atau menang, yang jelas aku senang ikut takbiran keliling bersama teman-temanku. aku bangga karena mewakili mushola tercintaku, Al-huda.

Seminggu kemudian juri lomba mengumumkan pemenang lomba, dan pemenang lomba takbir keliling tahun ini masih belum berubah, pemenang pertamanya yaitu masih mushola kami tercinta, tim takbir keliling mushola Al-huda. Kami bersorak bahagia, ternyata perjuangan kami tak sia-sia. Hadiahnya kambing 1 ekor, lumayan kalau dijual bisa buat tambahan uang kas mushola.

Kegiatan lomba takbir keliling didesaku rutin diselenggarakan tiap tahun, karena itu aku rindu nuansa gempitanya, rindu dengan teman-teman sebayaku saat sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut idhul adha. Aku rindu dengan canda teman-teman saat berebut microfon untuk bertakbir di mushola. dan aku rindu orang-orang yang dulu selalu tegar mens

18 Nopember 2009

Si Mbah…

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — condri @ 20:06

Si mbahku…wanita dengan usia lebih dari enam puluh tahun. Sosoknya begitu ku hafal. lebih dari sebelas tahun aku bersamanya. Melewati hari-hari dengan penuh tantangan dan kesulitan hidup. Si mbahku…wanita yang selalu tegar dengan segudang permasalahan anak-anaknya. Acapkali kulihat raut lelah di wajahnya. Bayangkan, beliau harus mengurus kelima cucunya, aku, ketiga kakakku, dan adikku. Tak banyak yang tahu tentang isi hatinya, yang kami tahu hanyalah sikap tegas dan tak mau kompromi dengan kesalahan yang dilakukan orang lain.

Aku, ingat suatu kali saat aku masih TK, aku begitu sedih saat membawa surat dari guru TK untuk di serahkan kepada orang tuaku saat itu. Mungkin isi surat itu sepele, tapi tidak untukku. Surat itu memberitahukan bahwa akan dilaksanakan acara perpisahan, dan setiap siswa harus datang bersama orang tuanya. Hatiku begitu miris, terbayang olehku aku akan datang sendirian tanpa ayah dan ibuku. Aku menyampaikan surat itu pada mbahku. Karena memang hanya beliaulah yang pasti membaca surat itu. Aku melihat ekspresinya, dengan senyuman dia berkata “sesok lungone karo mbah…” aku hanya diam menurut karena memang tak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu, tak mungkin ayahku datang pada acara perpisahan itu. Ah…aku hanya akan bermimpi jika berharap ayahku datang. Sehingga aku hanya pasrah.

Esoknya, aku tak begitu antusias saat acara perpisahan. Hal yang membuatku sedikit lebih ceria yaitu saat aku bisa tampil didepan untuk bernyanyi. Saat aku turun dari panggung dan menghampiri simbahku, aku melihat air mata disudut matanya. Entah karena terharu atau sedih karena nasibku yang tak sebaik teman-temanku yang pergi bersama orang tua mereka. Aku hanyalah seorang anak TK dengan kondisi keluarga yang rapuh.

Simbah, dengan segudang kasih sayang yang kadang tak kami mengerti. Sifatnya yang keras pada cucu-cucunya, membuat kami harus rela menahan segala egois, namun simbahlah yang memahamkan kami (cucu simbah) pada makna kesabaran, keprihatinan, dan ketegaran. Namun, jika mengingat kejadian perpisahan TK saat itu, aku memahami bahwa ada hamparan luas sayangnya yang tak akan terbatas pada masa dan rentang usia. Aku yakin beliau memiliki sejuta harap pada semua cucu-cucunya yang mulai dewasa untuk mengerti makna hidup sesungguhnya, kini, esok, dan seterusnya.

14 Nopember 2009

Puzzle 1

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — condri @ 21:43

Jalanan mulai panas, angkot mulai banyak yang beroperasi. Susah payah aku mengendalikan motorku untuk mencari sela diantara kendaraan yang macet. Kutahan emosiku saat ada kendaraan yang acap menyelonong tanpa aba-aba. Aku sudah bertekad dalam hati, hari ini aku harus mengawali hariku dengan senyum & semangat. Aku ingin aktifitasku di nilai ibadah oleh-Nya.

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat delapan menit. Kuparkir motorku tak jauh dari pos satpam, pagi mulai panas dengan matahari yang mulai nampak tak malu-malu. Kuayun langkah menuju kelas Bambu, kelas dengan segudang kisah menarik didalamnya. Terlebih kisah seru para penghuninya & pemeran utama dalam kelas Bambu, Azriel, Ari, Ody, Hilal mereka adalah inspirasi dalam segala hal. Aku adalah guru mereka, tapi aku belajar banyak dari mereka. Tentang kesabaran, tentang kekutan, tentang keteguhan, cinta, dan simpati.

Ada begitu banyak hal yang takkan lekang dari memori, kisah yang akan menjadi keping-keping puzzle yang menarik untuk di rangkai bersama keempat teman kecil tersayang.

Halo dunia!

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — condri @ 15:11

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

xhtml css.